Beberapa tahun lalu Sen membuat sebuah cerpen berjudul “The Tale of Night and Moon” yang menurut beberapa orang mirip dongeng/legenda. Sen sendiri merasa cerpen itu adalah cerpen terbaik yang pernah Sen buat. Beberapa waktu lalu Sen mencoba menerjemahkan cerpen itu ke dalam bahasa Indonesia. Ini hasilnya, entah lebih baik atau tidak daripada cerpen aslinya…

Kisah Malam dan Bulan

 

Pada mulanya terdapat kegelapan. Meski cahaya terdiri dari warna-warna indah, pada mulanya terdapat kegelapan. Hanya kegelapan, dan kegelapan memerintah di atas segala hal dan tak satu halpun. Kemudian terdapatlah Siang dan Malam. Siang duduk di danau keheningan. Airnya gelap dan tenang, dan di sana ada wajah tercantik di jagad raya, Malam. Malam mendesah. Meski ia cantik, ia bersedih sebab ia tak dapat melihat Mentari.

“Bersinarlah Mentari, dan aku akan terlelap dalam tidur,” kata Malam. Ia teringat bagaimana Angin berkata Mentari dan Siang adalah pasangan paling sempurna di jagad raya.

“Betapa cantiknya senyum Mentari dan Siang sangat terang hingga Mentari tidur,” Angin meraung. “Dan ketika Mentari mengantuk, Siang memeluknya, dan mereka menjadi senja.”

“Dan betapa beruntungnya kau, Angin, sebab selamanya tiupanmu menjelajahi Bumi, tak peduli tidurku atau tidur Siang,” ujar Malam.

Sang Hujan memeluk Malam. Keberadaan dingin dan tenangnya menyamankan Malam. Ia adalah kawan terbaik Malam.

“Putri Ketentraman, anak perempuan Kegelapan, kenapa terangnya Mentari harus membuatmu dipenuhi duka?” tanya Hujan.

“Terangnya memberi Siang cahaya. Sebab cahaya memberi Siang pandangan jernih, aku bersedih,” balas Malam. “Dan aku cantik di dalam kegelapan, bagaimana mungkin kubandingkan kecantikanku dengan milik Siang?”

Hujan tersenyum kepada sang putri manis tak berdasar. Ia berjanji untuk bertanya pada Mentari, jika kebetulan terdapat sebuah cara untuk memberikan Malam cahaya yang lebih terang. Dan pada akhirnya, Malam jatuh ke dalam tidur, menciptakan fajar yang indah dan hangat.

“Akan kuberikan Bintang-Bintang kepada Malam. Meski mereka kecil, mereka banyak,” dan Mentari memberikan sekantung penuh Bintang kepada Hujan yang kemudian dipersembahkannya pada Malam. Malam menyebarkan Bintang-Bintang dan ia tersenyu, karena ia menganggap Bintang-Bintang cantik dan ceria. Tapi lalu Malam cemberut.

“Ada apa, Putri? Tidakkah Bintang-Bintang memberimu cukup cahaya?” tanya Hujan.

Malam menggelengkan kepalanya. “Mereka baik, tapi mereka hanya berbicara mengenai diri mereka sendiri.” Maka Hujan pergi menemui Mentari sekali lagi. Mentari berjanji ia akan membangunkan saudaranya, Bulan, agar Bulan dapat membantu Malam.

“Aku akan memberikan Bulan cahayaku dan ia akan selamanya menemani Malam,” ujar Mentari. Hujan berterima kasih kepadanya dan menunggu malam kembali bangun.

Pada hari yang dijanjikan, Hujan menyuruh Malam untuk berjalan di danau keheningan dan menunggu. Ia menunggu sampai ia melihat Bulan nan tampan, bermandikan cahaya emas, mirip cahaya Mentari. Sang Putri pingsan karena cahaya itu terlalu terang dan terlalu menyilaukan bagi matanya yang pucat.

Menyaksikan wajah cantik dari Malam yang tak sadarkan diri, Bulan jatuh cinta kepadanya. Namun, segera setelah Malam mendapat kesadarannya, ia melarikan diri dan bersembunyi di dalam Gua Pelukan.

“Oh, Malam yang elok, entah mengapa ia harus menyembunyikan dirinya dariku,” Bulan berteriak di depan gua.

Malam, tanpa melihat wajah Bulan menjawab, “Pangeran Agung, cahaya emasmu terlalu terang bagi pandanganku.”

Bulan yang sedih kemudian berkata kepada Malam, “Terkutuklah aku karena telah membuatmu sedih. Tetapi Putriku, biarpun begitu, ada sebuah cara untuk mengurangi cahaya yang diberikan padaku oleh Mentari.”

“Dan cara itu adalah?”

“Kumohon Putri, pejamkan matamu yang tentram dan biarkan aku menciummu.”

Malam melakukan apa yang diberitahukan kepadanya oleh Bulan. Ciuman hangat dan cahaya cinta Bulan melampaui cahaya Mentari dan menjelma perak terang. Malam merasa cahaya perak itu indah. Ia terlelap dalam pelukan Bulan. Mereka saling berpelukan dan berciuman dan setiap waktu berlalu, cahaya Bulan berubah. Setelah bangkitnya Malam yang ketigapuluh kali, Bulan tak lagi memiliki cahaya. Ia pergi menemui Mentari untuk meminta cahaya baru.

Dan begitulah, Bulan mengubah bentuk cahayanya setiap hari dan ia menghilang pada malam bulan baru untuk mencari cahaya baru. Ketika ia bersinar sangat penuh dan terang, wajah cantik Malam terlihat di seluruh daratan dan mereka sebahagian Mentari dan Siang.